Tren Gaya Hidup Longevity Meningkat, Kesehatan Mata Jadi Investasi Jangka Panjang

12 hours ago 9

Fimela.com, Jakarta - Belakangan, istilah longevity semakin sering diperbincangkan. Jika dulu hidup sehat identik dengan menjaga pola makan dan rutin berolahraga, kini semakin banyak orang mulai memikirkan bagaimana tetap aktif, mandiri, dan produktif hingga usia lanjut.

Konsep longevity sendiri tidak hanya berbicara tentang usia yang panjang (lifespan), tetapi juga kualitas hidup (healthspan). Artinya, menikmati usia yang lebih panjang dengan kondisi tubuh yang tetap sehat sehingga dapat menjalani berbagai aktivitas tanpa banyak keterbatasan.

Sejalan dengan meningkatnya Angka Harapan Hidup (AHH) masyarakat Indonesia, kesadaran untuk berinvestasi pada kesehatan jangka panjang pun ikut bertumbuh. Namun, di tengah berbagai upaya menjaga kesehatan tubuh, ada satu aspek yang masih sering luput dari perhatian, yaitu kesehatan mata.

Padahal, penglihatan merupakan salah satu indra yang paling berperan dalam menunjang aktivitas sehari-hari. Mulai dari bekerja di depan komputer, mengemudi, membaca, hingga menikmati waktu bersama keluarga, semuanya bergantung pada kemampuan mata untuk melihat dengan optimal.

Mata Bekerja Lebih Keras di Era Digital

Gaya hidup modern membuat mata bekerja jauh lebih intens dibandingkan beberapa dekade lalu. Hampir seluruh aktivitas dilakukan melalui layar digital, mulai dari rapat daring, membalas pesan, membaca dokumen, hingga menikmati hiburan melalui ponsel.

Menurut dr. Zoraya Ariefia Feranthy, Sp.M, Dokter Spesialis Mata di Mayapada Eye Centre (MEC), penggunaan perangkat digital dalam waktu lama membuat mata terus berfokus pada jarak dekat sehingga lebih rentan mengalami kelelahan maupun gangguan refraksi, seperti miopia (rabun jauh) dan astigmatisme (mata silinder).

Kondisi tersebut kini tidak lagi hanya dialami kelompok usia tertentu. Anak muda hingga pekerja produktif pun semakin banyak yang bergantung pada kacamata atau lensa kontak untuk beraktivitas.

Meski penggunaan kacamata bukanlah masalah, sebagian orang merasa alat bantu penglihatan tersebut dapat memengaruhi kenyamanan ketika bekerja, berolahraga, atau menjalani aktivitas dengan mobilitas tinggi.

Memasuki Usia 40 Tahun, Tantangan Baru Mulai Muncul

Selain gangguan refraksi, proses penuaan alami juga membawa tantangan lain bagi kesehatan mata, yakni presbiopia atau yang lebih dikenal sebagai mata tua.

Kondisi ini biasanya mulai dirasakan ketika seseorang memasuki usia 40 tahun. Tanda yang paling umum adalah kesulitan membaca tulisan kecil atau melihat objek dalam jarak dekat sehingga tanpa sadar harus menjauhkan buku maupun ponsel agar tulisan terlihat lebih jelas.

Menurut dr. Ucok P. Pasaribu, Sp.M(K), Dokter Konsultan Spesialis Mata Mayapada Eye Centre, penurunan kemampuan fokus mata merupakan bagian dari proses penuaan yang alami. Namun, di era digital saat ini, gejalanya kerap terasa lebih cepat karena mata terus dipaksa bekerja dalam jarak dekat sepanjang hari.

Hal tersebut menunjukkan bahwa menjaga kesehatan mata sebaiknya tidak menunggu hingga gangguan penglihatan mulai menghambat aktivitas.

Menjadikan Kesehatan Mata sebagai Bagian dari Gaya Hidup

Layaknya menjaga kesehatan jantung atau rutin berolahraga, merawat mata juga perlu menjadi bagian dari investasi kesehatan jangka panjang.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain menerapkan aturan 20-20-20 saat bekerja di depan layar—setiap 20 menit, alihkan pandangan ke objek berjarak sekitar 20 kaki (6 meter) selama 20 detik—mengatur pencahayaan ruangan, membatasi penggunaan gawai ketika tidak diperlukan, mengonsumsi makanan bergizi, serta melakukan pemeriksaan mata secara berkala.

Pemeriksaan rutin memungkinkan berbagai gangguan penglihatan terdeteksi lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum memengaruhi kualitas hidup.

Perkembangan teknologi di bidang oftalmologi juga membuka lebih banyak pilihan bagi masyarakat yang ingin meningkatkan kualitas penglihatannya.

Salah satunya adalah teknologi koreksi refraksi berbasis laser seperti SMILE Pro yang tersedia di Mayapada Eye Centre. Teknologi ini menggunakan laser femtosecond generasi terbaru dengan prosedur minimal invasif dan waktu tindakan yang singkat, sehingga dapat membantu mengurangi ketergantungan pada kacamata maupun lensa kontak bagi pasien dengan miopia dan astigmatisme.

Sementara bagi mereka yang mulai mengalami presbiopia, tersedia pula teknologi PRESBYOND yang dirancang untuk membantu meningkatkan kemampuan melihat pada jarak jauh, menengah, hingga dekat.

Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Gia Pratama, yang telah menjalani prosedur SMILE Pro, mengaku kualitas penglihatannya memberikan dampak positif terhadap aktivitas sehari-hari.

"Sebagai dokter dengan mobilitas tinggi, kenyamanan penglihatan sangat memengaruhi produktivitas. Setelah menjalani SMILE Pro, saya dapat beraktivitas tanpa bergantung pada kacamata. Bagi saya, ini bukan hanya tentang melihat lebih jelas, tetapi juga bekerja lebih nyaman dan menjalani hidup dengan kualitas yang lebih baik," ujarnya.

Melalui edukasi bertajuk Longevity Era: Investing in Vision for a Better Quality of Life, Mayapada Eye Centre juga menekankan bahwa menjaga kesehatan mata merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan kualitas hidup di setiap fase usia.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Vinsensia Dianawanti

    Author

    Vinsensia Dianawanti
Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |