Waspada GERD Kambuh Saat Mudik, Kiat Puasa Aman dan Pertolongan Pertama Penanganan GERD di Perjalanan

11 hours ago 13

Fimela.com, Jakarta - Kembali ke kampung halaman di masa lebaran (mudik) telah menjadi tradisi masyarakat Indonesia. Namun, bagi Anda yang memiliki riwayat Gastroesophageal Reflux Disease, perjalanan jauh dapat menjadi tantangan tersendiri. Apalagi jika perjalanan mudik dilakukan saat masih menjalankan ibadah puasa. Perubahan jam makan, kelelahan fisik, hingga stres selama di perjalanan sering kali memicu naiknya asam lambung. Karenanya, penting untuk mengetahui penanganan yang tepat jika kondisi GERD kambuh di perjalanan.

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit refluks asam lambung adalah gangguan pencernaan di mana cairan asam lambung “naik” dari lambung ke kerongkongan dan mengiritasi lapisan bagian dalam saluran pencernaan yang dilewati asam lambung. Umumnya saat terjadi kekambuhan, penderita GERD mengalami rasa asam atau pahit di mulut (regurgitasi asam) dan sensasi perih atau panas terbakar di dada dan ulu hati (heartburn). Selain itu, penderitanya juga kerap merasakan mual dan muntah, begah, nyeri dada, bahkan gangguan pernapasan.

Ragam faktor pemicu gerd

Saat dalam perjalanan, kondisi GERD dapat dipicu oleh berbagai faktor, antara lain:

● Terburu-buru makan dan minum saat sahur atau ketika berbuka di perjalanan

● Mengonsumsi makanan pedas, berlemak, atau minuman berkafein berlebihan

● Posisi duduk terlalu lama yang menyebabkan tekanan pada area perut, sehingga mendorongasam lambung naik

● Stres dan kelelahan dalam perjalanan

Pertolongan Pertama saat GERD Menyerang

Ketika merasakan gejala GERD tetapi Anda masih berada dalam perjalanan dan kondisi berpuasa,lakukan langkah berikut untuk meredakan gejala:

 ● Longgarkan pakaianJika menggunakan ikat pinggang atau pakaian yang ketat, segera longgarkan. Tekanan padaperut dapat memperburuk aliran balik asam lambung

● Atur posisi dudukTegakkan posisi duduk, jangan membungkuk atau meringkuk. Jika memungkinkan, sandarkanpunggung dengan posisi kepala dan dada lebih tinggi dari perut untuk memanfaatkan gayagravitasi agar asam lambung tidak terus naik

● Lakukan pernapasan dalamTarik napas melalui hidung dan buang perlahan melalui mulut. Hal ini membantu merelaksasiotot saluran cerna dan mengurangi rasa panik yang dapat memperburuk produksi asamlambung Jika kondisi tidak mereda dan terjadi gejala berat yang ditandai dengan nyeri ulu hati sangat hebatdisertai muntah atau sesak napas, maka sebaiknya jangan memaksakan diri.

Segerakan berbuka denganair hangat (bukan air dingin atau air dengan es batu) dan konsumsi obat jika perlu. Hindari mengonsumsi makanan maupun minuman yang dapat memperburuk kondisi. Namun, jika gejala GERD yang Andaalami tak berangsur pulih, segera kunjungi unit Emergency rumah sakit terdekat untuk penanganan yangtepat. Penting untuk mengetahui alamat-alamat rumah sakit di jalur mudik yang Anda lewati.

Diagnosis GERD dengan Endoskop

Apabila Anda telah menjaga pola makan tetapi masih sering mengalami kekambuhan GERD, maka diperlukan pemeriksaan medis lebih dalam untuk menegakkan diagnosis dan mendapatkan penangananyang tepat. Pemeriksaan GERD umumnya dimulai dengan wawancara medis (anamnesis) untuk mengetahui gejala yang Anda alami. Kemudian untuk melihat kondisi fisik saluran cerna secara akurat,dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi dan hepatologi dapat menyarankan pemeriksaan penunjang, yakni Endoskopi.

Endoskopi merupakan prosedur pemeriksaan medis menggunakan endoskop, yaitu selang lentur yang ujungnya terdapat kamera untuk melihat langsung lapisan kerongkongan, lambung, usus dua belas jaridan organ terkait. Pada kasus GERD, prosedur endoskopi disebut dengan istilah gastroskopi yang khusus digunakan untuk memeriksa saluran pencernaan bagian atas, seperti lambung dan kerongkongan. Prosedur ini memungkinkan dokter mendeteksi peradangan, luka, atau infeksi yang terjadi.

Untuk kondisi GERD yang lebih kompleks, teknologi endoscopic ultrasound (EUS) dapat digunakan. EUS menggabungkan endoskopi dengan teknologi ultrasonografi (USG) berupa probe mini. Miniprobe EUS memindai pada frekuensi antara 12-20 MHz dan menghasilkan gambar dengan resolusi yang dioptimalkan ketika transducer USG berada di dekat lesi dan dinding saluran pencernaan serta jaringandi sekitarnya.

Dengan EUS, dokter dapat melihat gambaran saluran pencernaan yang lebih rinci, dandapat segera melakukan terapi penyuntikan obat di area yang bermasalah. Selama masa libur Lebaran,layanan endoskopi dan EUS biasanya tetap tersedia di rumah sakit besar.

Pemeriksaan endoskopi

Pemeriksaan endoskopi dapat dilakukan selama bulan Ramadan, tetapi perlu mempertimbangkan beberapa hal. Jika Anda berpuasa, pastikan untuk membicarakan dengan dokter tentang rencana pemeriksaan endoskopi Anda. Dokter mungkin akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan di pagi hari sebelum berbuka puasa, atau setelah berbuka puasa di malam hari. Pastikan juga untuk mengikuti instruksi dokter tentang persiapan sebelum pemeriksaan, seperti tidak makan atau minum selama beberapa jam sebelum pemeriksaan. Dengan perencanaan yang tepat, Anda dapat menjalani pemeriksaan endoskopi dengan aman dan nyaman selama bulan Ramadan.

Setelah diagnosis ditegakkan, penanganan GERD akan disesuaikan dengan kondisi pasien. Pilihan penanganan yang mungkin direkomendasikan oleh dokter antara lain:

 Terapi pengobatan

 Modifikasi gaya hidup

 Panduan spesifik mengenai jenis makanan yang harus dihindari, pengaturan berat badan, sertaposisi tidur yang disarankan (menggunakan bantal yang lebih tinggi)

 Pengelolaan stres yang baikPenanganan ini sebaiknya diterapkan dengan baik agar GERD tidak kambuh.

Pada kasus GERD yang sudah menyebabkan komplikasi berat atau tidak merespons pengobatan, dokter akan menentukan apakah diperlukan tindakan operatif atau prosedur minimal invasive lanjutan untukmemperkuat katup kerongkongan sehingga cairan asam lambung tidak kembali “naik” ke kerongkongan.Tips Aman Berpuasa bagi Penderita GERDBagi penderita GERD yang berencana mudik tetapi ingin tetap berpuasa secara aman, berikut hal-halyang perlu diperhatikan:

● Jangan lewatkan sahur meski sedang berada dalam perjalanan. Pilih karbohidrat kompleks dan serat tinggi dengan porsi yang cukup. Upayakan untuk tidak terburu-buru saat makan dan minum

● Hindari balas dendam saat berbuka puasa. Makan dalam porsi kecil tetapi sering lebih baik dibandingkan dengan sekali makan besar yang membuat lambung menjadi “kaget”

● Jangan langsung tidur setelah makan. Beri jeda minimal 3 jam setelah makan (sahur/buka) sebelum berbaring

● Kelola stres dengan baik. Perjalanan macet dapat memicu stres yang meningkatkan asam lambung. Tetaplah tenang dan beristirahatlah secara berkala di rest area Jangan biarkan GERD mengganggu perjalanan mudik Anda dan momen bertemu keluarga saat Lebaran.

Dengan menjaga pola makan dan melakukan deteksi dini melalui endoskopi, Anda tetap dapat menjalani mudik serta ibadah puasa dengan nyaman dan tenang. Jika gejala berulang, jangan ragu untukmemeriksakan diri ke pusat kesehatan terdekat.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Nabila Mecadinisa
Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |