Kenali 6 Kelompok Paling Rentan Penyakit Akibat Musim El Nino

8 hours ago 4

ringkasan

  • Negara berkembang dan komunitas dengan kapasitas terbatas menjadi kelompok paling rentan terhadap penyakit akibat musim El Nino karena keterbatasan mitigasi.
  • Populasi dengan malnutrisi tinggi, anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis memiliki risiko lebih besar terkena komplikasi kesehatan saat El Nino.
  • Perubahan iklim El Nino dapat memicu wabah penyakit menular, seperti malaria, kolera, dan demam berdarah, terutama di wilayah tropis dan dataran tinggi dengan akses kesehatan terbatas.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, fenomena El Nino merupakan perubahan iklim global yang memicu dampak signifikan pada cuaca dunia. Peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi pemicu utama kondisi ini. El Nino sering dikaitkan dengan kemarau panjang, suhu ekstrem, dan kekeringan di banyak wilayah.

Dampak El Nino tidak hanya terbatas pada lingkungan, namun juga membawa konsekuensi serius terhadap kesehatan masyarakat. Kondisi ini dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari wabah penyakit hingga malnutrisi. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui kelompok mana saja yang paling rentan terhadap penyakit akibat musim El Nino.

Memahami kerentanan ini membantu kita mempersiapkan diri dan mengambil langkah pencegahan yang tepat. Mari kita telaah lebih dalam siapa saja yang perlu mendapatkan perhatian ekstra saat El Nino melanda, serta jenis penyakit yang patut diwaspadai. Dengan begitu, kita bisa menjaga kesehatan diri dan orang-orang terdekat.

Negara Berkembang dan Komunitas dengan Kapasitas Terbatas

Dampak kesehatan El Nino cenderung lebih intens di negara-negara berkembang. Hal ini terjadi karena mereka memiliki kapasitas terbatas untuk mengurangi konsekuensi kesehatan. Kemiskinan dan ketidaksetaraan sosial-ekonomi yang sudah ada memperparah kerentanan komunitas. Mereka menjadi lebih mudah terkena dampak negatif El Nino.

Keterbatasan infrastruktur kesehatan dan sumber daya seringkali menjadi penghalang. Akibatnya, upaya mitigasi dan respons terhadap krisis kesehatan menjadi kurang efektif. Kondisi ini menempatkan jutaan orang di negara-negara berisiko tinggi dalam bahaya serius.

Negara-negara seperti Ethiopia, Lesotho, Kenya, Papua Nugini, Somalia, Tanzania, dan Uganda termasuk dalam daftar berisiko tinggi. Mereka membutuhkan dukungan finansial dan teknis untuk menghadapi krisis kesehatan akibat El Nino.

Populasi dengan Malnutrisi dan Kerawanan Pangan

Populasi dengan tingkat malnutrisi tinggi sangat rentan terhadap berbagai jenis penyakit. El Nino memperburuk kondisi ini karena dapat menyebabkan kekeringan ekstrem dan kekurangan air akut. Kekurangan air bersih dapat meningkatkan risiko malnutrisi dan penyakit diare.

Rumah tangga termiskin seringkali menjadi yang paling terdampak. Mereka mungkin mengalami kerawanan pangan parah hingga panen berikutnya. Anak-anak dan komunitas terpinggirkan berada pada risiko lebih tinggi akibat kerawanan pangan ini.

Malnutrisi juga menurunkan daya tahan tubuh, membuat individu lebih mudah terserang infeksi. Ini menciptakan lingkaran setan di mana penyakit memperburuk malnutrisi, dan sebaliknya.

Kelompok Spesifik: Usia, Kondisi Kesehatan, dan Status Sosial

Beberapa kelompok memiliki kerentanan spesifik terhadap dampak El Nino. Orang tua dan anak-anak misalnya, memiliki risiko lebih besar mengalami komplikasi. Mereka juga lebih rentan terhadap kematian selama gelombang panas. Tubuh mereka kurang mampu beradaptasi dengan perubahan suhu ekstrem.

Penderita penyakit kronis yang mengonsumsi obat harian juga berisiko tinggi. Mereka lebih mungkin mengalami komplikasi serius akibat gelombang panas. Kondisi kesehatan yang sudah ada memperburuk respons tubuh terhadap stres lingkungan.

Populasi di daerah konflik, pengungsi internal, dan pengungsi sangatlah rentan. Mereka menghadapi malnutrisi, penyakit menular, dan akses terbatas ke layanan kesehatan. Lingkungan yang tidak stabil memperparah kerentanan mereka terhadap dampak El Nino.

Wilayah Geografis Terdampak Parah

El Nino paling intens berdampak pada wilayah tropis Afrika, Asia-Pasifik, dan Amerika Latin. Wilayah ini sangat rentan terhadap bencana alam. Kekeringan ekstrem dan kekurangan air akut telah melanda jutaan orang di Pasifik Barat Daya, Amerika Tengah, dan Afrika Selatan.

Di sisi lain, kondisi lebih basah di Amerika Selatan dapat menyebabkan banjir intens. Peru, Ekuador, dan Bolivia berisiko mengalami peningkatan insiden penyakit yang ditularkan vektor. Banjir juga dapat merusak fasilitas kesehatan, membatasi akses ke perawatan.

Contoh nyata terjadi di Afrika Timur pada El Nino 1997-1998. Curah hujan sangat deras memicu banjir serius dan wabah besar malaria, kolera, serta Demam Lembah Rift. Ini menunjukkan betapa parahnya dampak El Nino pada wilayah tertentu.

Penduduk Dataran Tinggi dan Akses Kesehatan Terbatas

Selama El Nino, suhu yang lebih hangat dapat menyebabkan penularan penyakit. Penyakit yang ditularkan oleh vektor dapat menyebar di daerah dataran tinggi. Wilayah ini biasanya terlalu dingin untuk kelangsungan hidup vektor penyakit. Orang-orang di daerah ini tidak memiliki kekebalan terhadap penyakit seperti malaria. Ini menempatkan mereka pada risiko tinggi hasil yang tidak menguntungkan.

Akses terbatas ke layanan kesehatan dan sanitasi juga meningkatkan risiko penyakit. Kekeringan, banjir, atau curah hujan intens dapat merusak fasilitas kesehatan. Ini mengurangi penyediaan layanan kesehatan reguler dan membatasi akses perawatan.

Risiko penyakit menular meningkat drastis saat akses makanan, air, dan sanitasi terbatas. Kondisi ini diperparah oleh rusaknya infrastruktur air bersih dan sanitasi.

Penyakit yang Paling Umum Terkait El Nino

Sahabat Fimela, El Nino dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan serius. Kondisi ini mencakup wabah penyakit, malnutrisi, stres panas, dan penyakit pernapasan. Berikut adalah beberapa penyakit yang paling sering dikaitkan dengan fenomena El Nino:

  • Penyakit yang ditularkan oleh vektor: Malaria, Demam Lembah Rift, chikungunya, Zika, dan demam berdarah. Peningkatan suhu dan perubahan pola hujan menciptakan lingkungan ideal bagi nyamuk.
  • Penyakit diare: Kolera dan berbagai penyakit diare lainnya. Kekeringan mengurangi ketersediaan air bersih, sementara banjir dapat mencemari sumber air.
  • Penyakit pernapasan: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kualitas udara yang buruk dari kebakaran hutan. Kabut asap dan polutan bertahan lebih lama di atmosfer.
  • Penyakit lain: Hantavirus, pes, dan campak juga dapat mengalami peningkatan kasus.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Anisha Saktian Putri

    Author

    Anisha Saktian Putri
Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |