Mengenal Dampak Kesehatan Saat Melihat Berita Negatif

10 hours ago 11

ringkasan

  • Paparan berita negatif secara terus-menerus dapat memicu peningkatan stres, kecemasan, depresi, dan bahkan trauma vikarius, mengganggu kesehatan mental secara signifikan.
  • Kebiasaan 'doomscrolling' atau membaca berita buruk tanpa henti, terutama di media sosial, memperburuk kondisi mental dan fisik dengan meningkatkan hormon stres serta menyebabkan gangguan tidur.
  • Dampak fisik dari konsumsi berita negatif meliputi sakit kepala, nyeri otot, tekanan darah tinggi, dan kelelahan, dengan beberapa kelompok seperti wanita muda dan individu dengan riwayat gangguan mental lebih rentan.

Bahaya Tersembunyi di Balik Layar: Mengapa Berita Negatif Mengancam Kesehatan Kita?

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, di era digital yang serba cepat ini, informasi mengalir tanpa henti. Berita, baik yang positif maupun negatif, mudah diakses kapan saja dan di mana saja. Namun, tahukah Anda bahwa paparan berita negatif yang terus-menerus dapat memiliki dampak serius pada kesehatan, baik mental maupun fisik? Fenomena ini semakin relevan mengingat siklus berita 24 jam dan dominasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Melihat berita yang mengganggu, terutama yang berkaitan dengan krisis atau bencana, dapat memicu respons stres alami tubuh. Respons ini, yang dikenal sebagai 'lawan atau lari', melepaskan hormon seperti adrenalin dan kortisol, yang jika terjadi berulang kali dapat merugikan kesehatan. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami bagaimana konsumsi berita negatif memengaruhi diri kita dan cara mengelolanya.

Artikel ini akan mengupas tuntas berbagai dampak kesehatan yang muncul akibat paparan berita negatif, dari masalah mental hingga gejala fisik. Kita juga akan membahas fenomena 'doomscrolling' yang kian marak, serta kelompok-kelompok yang lebih rentan terhadap efek buruk ini. Mari kenali lebih dalam agar kita bisa lebih bijak dalam menyaring informasi.

Dampak Berita Negatif pada Kesehatan Mental

Paparan berita negatif secara konsisten dapat menimbulkan efek merugikan yang signifikan pada kesehatan mental Sahabat Fimela. Salah satu dampaknya adalah peningkatan stres dan kecemasan yang berkelanjutan. Menonton atau membaca berita yang mengganggu dapat memicu respons 'lawan atau lari' tubuh, melepaskan adrenalin dan kortisol, hormon stres yang menyebabkan gejala fisik kecemasan seperti detak jantung cepat, pernapasan dangkal, dan sakit perut.

Penelitian menunjukkan bahwa paparan berita negatif dapat menyebabkan peningkatan tingkat kecemasan dan stres, bahkan gejala kecemasan dan depresi dapat meningkat setelah hanya 14 menit mengonsumsi berita. Hal ini dapat memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya, membuat individu merasa siaga tinggi yang konstan dan dunia terasa lebih gelap serta berbahaya.

Selain itu, paparan berita buruk yang terus-menerus dapat berkontribusi pada perasaan depresi dan keputusasaan. Ketika berita dipenuhi dengan cerita penderitaan, mudah untuk merasa kewalahan dan tidak berdaya, yang dapat memengaruhi suasana hati dan menyebabkan kesedihan yang terus-menerus atau kurangnya motivasi. Konsumsi berita negatif juga dikaitkan dengan trauma vikarius, di mana seseorang terpengaruh secara merugikan meskipun tidak mengalami trauma secara langsung, dengan gejala seperti pikiran mengganggu dan mati rasa emosional.

Doomscrolling: Kecanduan Berita Buruk yang Menguras Energi

Istilah "doomscrolling" muncul selama pandemi COVID-19, merujuk pada tindakan menghabiskan waktu berlebihan untuk membaca berita negatif secara online tanpa henti. Ini adalah tindakan kompulsif melihat berita negatif secara online, terutama di platform media sosial, yang seringkali dimulai dengan niat baik untuk tetap mendapat informasi, tetapi dapat dengan cepat berubah menjadi kebiasaan tidak sadar yang menyebabkan kewalahan dan kecemasan.

Doomscrolling telah dikaitkan dengan kesejahteraan mental dan kepuasan hidup yang lebih buruk. Kebiasaan ini dapat memicu respons 'lawan, lari, atau beku' tubuh dan menciptakan siklus negatif perasaan rendah atau khawatir. Alih-alih merasa lebih baik, seseorang seringkali berakhir dengan perasaan lebih buruk setelah melakukan doomscrolling.

Fenomena ini juga dapat memicu kecemasan eksistensial, ketidakpercayaan, kecurigaan, dan keputusasaan. Paparan konstan terhadap berita negatif dapat mengancam keyakinan seseorang tentang kematian dan kendali yang mereka miliki atas hidup mereka. Bagi beberapa kelompok, seperti mahasiswa Iran dalam satu penelitian, doomscrolling juga dikaitkan dengan misantropi, atau rasa kebencian dan ketidakpercayaan yang mendalam terhadap umat manusia.

Dampak Fisik dan Kelompok Rentan Terhadap Berita Negatif

Selain dampak mental, konsumsi berita negatif yang berlebihan juga dapat memanifestasi dalam masalah kesehatan fisik. Gejala fisik terkait stres meliputi sakit kepala, ketegangan otot, nyeri leher dan bahu, mual atau sakit perut, tekanan darah tinggi, dan kelelahan. Paparan berulang terhadap berita traumatis dapat membuat tubuh kelelahan karena kelenjar adrenal terus bekerja keras.

Gangguan tidur juga menjadi masalah umum, di mana kesulitan tidur atau insomnia sering terjadi. Cahaya biru dari perangkat seluler dapat menurunkan produksi melatonin, mengganggu kualitas tidur, dan penggunaan perangkat di larut malam menjaga otak tetap aktif, mencegahnya memasuki fase istirahat yang lebih dalam. Orang yang memiliki dorongan obsesif untuk terus-menerus memeriksa berita lebih mungkin menderita stres, kecemasan, serta kesehatan fisik yang buruk.

Beberapa kelompok individu mungkin lebih rentan terhadap dampak negatif berita. Komunitas BIPOC (Black, Indigenous, and People of Color) dan LGBTQ+ lebih rentan, begitu pula orang dewasa muda dan wanita. Mereka yang memiliki riwayat penganiayaan di masa kanak-kanak atau sudah memiliki gangguan mental seperti kecemasan atau depresi, juga lebih berisiko mengalami dampak buruk dari paparan berita negatif.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Anisha Saktian Putri

    Author

    Anisha Saktian Putri
Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |