Tak Cuma Cek Mata Minus, Kenali Kesehatan Tubuh Lewat Retina dengan Teknologi AI

16 hours ago 2

Fimela.com, Jakarta - Selama ini, pemeriksaan mata mungkin masih identik dengan mengetahui ukuran minus, plus, atau silinder sebelum membuat kacamata baru. Padahal, kesehatan mata jauh lebih kompleks dari sekadar kemampuan melihat dengan jelas. Salah satu bagian mata yang penting untuk diperhatikan adalah retina, lapisan tipis yang berada di bagian belakang mata dan berfungsi menangkap cahaya sebelum mengirimkan informasi visual ke otak.

Menariknya, retina juga memiliki jaringan pembuluh darah dan saraf yang dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi kesehatan tubuh.

Karena itu, pemeriksaan retina semakin mendapat perhatian dalam perkembangan kesehatan mata modern. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut gangguan penglihatan masih menjadi persoalan kesehatan global, dengan setidaknya 2,2 miliar orang mengalami gangguan penglihatan jarak dekat atau jauh.

Beberapa penyebab penting gangguan penglihatan dan kebutaan antara lain retinopati diabetik, glaukoma, dan degenerasi makula terkait usia. Deteksi dini menjadi penting karena pada sejumlah kondisi, penanganan lebih awal dapat membantu mencegah kehilangan penglihatan yang tidak dapat dipulihkan.

Ketika Retina Terganggu, Apa yang Bisa Terjadi?

Retina berperan penting dalam proses penglihatan sehingga gangguan pada bagian ini dapat berdampak serius. Salah satunya adalah retinopati diabetik, kondisi yang terjadi ketika diabetes merusak pembuluh darah retina. Pada tahap awal, penyakit ini bahkan dapat tidak menimbulkan gejala sehingga pemeriksaan rutin menjadi penting bagi orang dengan diabetes.

Ada pula retinopati hipertensi, yang berkaitan dengan perubahan pada pembuluh darah retina akibat tekanan darah tinggi, serta degenerasi makula terkait usia yang dapat memengaruhi penglihatan sentral.

Sementara itu, glaukoma dapat merusak saraf optik dan menyebabkan kehilangan penglihatan. Ada juga ablasio atau retinal detachment, yaitu ketika retina terlepas dari posisi normalnya. Kondisi ini termasuk keadaan darurat karena dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen jika tidak segera ditangani. Gejalanya dapat berupa munculnya banyak floaters secara tiba-tiba, kilatan cahaya, atau bayangan seperti tirai pada bidang penglihatan.

Karena beberapa penyakit retina dapat berkembang tanpa gejala jelas pada tahap awal, pemeriksaan menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan mata.

Retina sebagai Jendela Kesehatan Tubuh

Yang membuat pemeriksaan retina semakin menarik adalah potensinya untuk memberikan informasi mengenai kondisi kesehatan di luar mata.

Retina memiliki jaringan pembuluh darah dan jaringan saraf yang dapat diamati secara langsung tanpa prosedur invasif. Dalam literatur ilmiah, pendekatan untuk mempelajari kondisi kesehatan sistemik melalui karakteristik mata ini dikenal sebagai oculomics.

Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam Theranostics pada 2025 menjelaskan bahwa kemajuan artificial intelligence dan deep learning membuat analisis citra retina semakin berpotensi digunakan untuk mengidentifikasi berbagai kondisi, termasuk penyakit kardiovaskular, penyakit sistem saraf pusat, penyakit ginjal kronis, serta gangguan metabolik dan endokrin.

Dengan kata lain, citra retina tidak hanya menarik bagi dokter mata. Pola pembuluh darah, saraf, dan struktur retina juga menjadi objek penelitian untuk memahami kondisi tubuh secara lebih luas.

Bagaimana AI Membaca Retina?

Di sinilah teknologi retinal imaging berbasis artificial intelligence mulai memainkan peran.

Secara sederhana, teknologi ini bekerja dengan mengambil gambar retina menggunakan perangkat pencitraan. Citra tersebut kemudian dianalisis oleh sistem AI yang telah dilatih menggunakan kumpulan data citra retina dalam jumlah besar untuk mengenali pola tertentu yang berkaitan dengan penyakit atau kelainan.

Kemampuan tersebut bukan sekadar konsep futuristik. Sejumlah penelitian telah menguji AI untuk membantu melakukan skrining penyakit retina.

Salah satu penelitian yang diterbitkan di jurnal Eye menilai penggunaan AI untuk skrining retinopati diabetik menggunakan foto fundus. Dalam penelitian terhadap 889 pasien diabetes, sistem AI menunjukkan sensitivitas sekitar 90,8 persen dan spesifisitas 98,5 persen dalam mendeteksi retinopati diabetik. Peneliti menyimpulkan bahwa AI memiliki potensi untuk digunakan dalam skrining retinopati diabetik di layanan kesehatan komunitas.

Penelitian yang lebih baru juga menunjukkan bahwa teknologi ini terus berkembang. Sebuah studi npj Digital Medicine yang diterbitkan pada Mei 2026 meninjau berbagai penelitian mengenai skrining retinopati diabetik menggunakan AI dan membandingkannya dengan metode pembacaan citra konvensional.

Meski demikian, teknologi AI tetap perlu ditempatkan sebagai alat bantu skrining. Hasil yang menunjukkan adanya risiko bukan berarti seseorang otomatis telah mendapatkan diagnosis penyakit tertentu. Pemeriksaan lanjutan dan interpretasi tenaga medis tetap diperlukan.

Retina Scan AI Kini Hadir di Indonesia

Perkembangan teknologi tersebut kini mulai dapat ditemui di Indonesia melalui layanan Retina Scan AI yang dihadirkan Optik Melawai. Teknologi Retina Scan AI menjadi salah satu bagian dari transformasi Optik Melawai yang memasuki usia ke-45 tahun pada 2026. Untuk merayakan perjalanan tersebut, Optik Melawai menghadirkan Eyewear Exhibition pada 6–9 Agustus 2026 di Main Atrium Senayan City, Jakarta..

Selama empat hari, pengunjung dapat menikmati pameran koleksi eyewear, talkshow seputar gaya hidup dan kesehatan mata, hingga berbagai aktivitas interaktif untuk keluarga. Tersedia pula layanan free eye check-up dan free eyewear cleaning.

Dalam layanan ini, pemeriksaan dilakukan dengan mengambil citra retina yang kemudian dianalisis menggunakan sistem AI. Optik Melawai menyebut teknologi tersebut dapat membantu mendeteksi risiko enam penyakit mata, yaitu retinopati diabetik, retinopati hipertensi, glaukoma, degenerasi makula, miopia patologis, serta ablasio retina.

Tidak berhenti pada kesehatan mata, Optik Melawai juga menyebut pemeriksaan berbasis retinal imaging AI tersebut dapat memberikan indikasi risiko terhadap delapan kondisi kesehatan kronis, yaitu hipertensi, diabetes melitus, stroke, penyakit jantung koroner, gagal jantung, anemia, tumor otak, dan penyakit paru-paru.

Menurut informasi layanan Optik Melawai, proses pengambilan citra retina menggunakan teknologi tersebut membutuhkan waktu sekitar satu menit, kemudian hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu sekitar tiga menit. Optik Melawai juga menyebut sistem Airdoc yang digunakan dalam layanan tersebut memiliki basis data lebih dari 20 juta pasang mata dan tingkat akurasi yang diklaim di atas 95 persen.

Kehadiran teknologi semacam ini memberikan pendekatan baru terhadap pemeriksaan mata. Jika sebelumnya seseorang datang ke optik terutama ketika membutuhkan kacamata atau merasa penglihatannya terganggu, pemeriksaan retina dapat menjadi langkah tambahan untuk mengenali kondisi mata secara lebih menyeluruh.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Read Entire Article
Health | Komunitas | Berita Hot |